Senin, 12 Juli 2010

KANAK-KANAK

kanak - kanak adalah daun hijau
dilapisi titik - titik air sehabis hujan

kanak - kanak adalah langkah - langkah pendek
ditengah derap kehidupan

kanak - kanak adalah halaman tengah
kitab - kitab percintaan

kanak - kanak adalah seribu pasang mata
yang bertanya tentang masa depan

kanak - kanak adalah ketidakpastian
tentang harapan - harapan

kanak - kanak adalah mimpi sejenak
sebelum tersentak oleh kenyataan

(Tuhanku,
telah Kau turunkan makhluk yang suci ini
lindungilah dalam naungan sayap-Mu
sampai selesai semua ini)

SOBAT

sobat,
kita pernah merasakan manis dan pahitnya hidup ini
kita pernah menjelajahi seluruh isi dunia yang penuh teka teki

sobat,
kita pernah melihat sinar dan cahaya kehidupan dunia
kita pernah tertawa dan menangis bersama-sama

sobat,
jangan pernah kalah dalam menjalani hidup ini
rasakan keindahan dan keburukan dunia ini

sobat,
terangi dunia ini dengan sinar dan cahayamu
jangan pernah merubah hidupmu padaku

sobat,
kau kan slalu ada dalam memori kehidupanku
kau kan slalu menjadi semangat hidup dunia ini

sobat,
cahayamu menerangi kegelapan dunia ini
kau juga sebagian dari hati dan jiwaku

IMPIAN BERBAYANG

rintikan air langit menusuk pandanganku
sementara
bayangan yang kukejar,
tenggelam dalam lantunan badai gemuruh

terus kukejar
tak peduli angin yang risau

mengejar bayangan dalam kebutaan
tak apa, asal tak membisu

mencoba menangkap
bayangan dalam ketidakadaan
tak mengapa, asal tidak kealpaan

impianku bukan mimpi
hanya saja sementara ini masih berbayang

harapan kini masih
terbungkus bayangan
kan kukejar, sampai mentari memupuskannya

SUNGAI KEHIDUPAN

bila nanti ada rindu dijamah air surga
kan kubendung disungai hatiku

jika kelak ada ragu dibelai embun pagi
kan kuleburkan disungai hatiku

kian hari sungai kecilku semakin panjang
buih2 perasaan timbul tenggelam dipermukaannya

terkadang arus,badai dan kemarau
menelangsakan sungai hatiku
kadang,pucuk dedaunan pun menggoda

tapi,itulah kehidupan selalu berjalan apa adanya . . .

hanya batu2 membisu
yang senantiasa menghenti riak2 kecil

batu2 ketegaran mengoyakkan ranting2 kehidupan

bila nanti ada kesepian mengalir,
kunanti perahu layar disini
bersama bermuara kecinta hakiki

dan,jika kelak sungai ini tak sejernih dulu lagi
kan kusesali,kan kutangisi
karena, betapa hinanya aliran sungai ini
bermuara dilaut kebesaran-Mu
Tuhan

TENTANG SEBUAH KEBERSAMAAN

awalnya,kujejaki taman
hatimu dengan bunga2 cintaku
bukan dengan daun2nya
yang berguguran . . .

lalu,kita hitung malam2
kita dengan bintang2
bukan bayang2 . . .

kemudian,kita sentuh hari2
kita menjadi keemasan
bukan kelam,gelap,ataupun buram . . .

dan pada akhirnya,kita
hitung sisa hidup kita
dengan senyuman
bukan dengan airmata . . .

sampai suatu ketika,
kusaksikan mentari terbenam
tanpa adanya kau
disaat mentari terbit

Jumat, 02 Juli 2010

AKU DAN PEREMPUAN ANGANKU


11.54 malam hari, aku baru menyelesaikan sebuah naskah dan mengirimkannya melalui email ke sebuah media. Sementara dua gelas kopi, segelas air putih, sebotol sirup multivitamin, sebotol obat tukak lambung, dan sebuah asbak dengan satu, dua, tiga, hmm….tujuh puntung rokok berserakan di sisi kiriku.

Aku bangkit dari dudukku dan menyelonjorkan otot-otot punggungku yang kaku dengan berbaring di sofa. Sementara perempuanku sudah sejak tadi lena berpelukan dengan gulingnya. Buat aku, tidak terlalu penting, apakah aku harus tidur di sofa atau di ranjang yang sama dengan perempuanku.

Sebetulnya, perempuanku tidak terlalu suka tidur seranjang denganku. Begitu pula aku. Menurutku, ia terlalu banyak aturan. Sedangkan menurutnya, aku terlalu jorok. Ia selalu menyuruhku mencuci muka, tangan dan kaki, menggosok gigi, memakai kaos dan celana tidur, lalu mengecupnya dan mengucapkan "Have a nice dream, honey…" Bah! Ia memperlakukan aku seperti anak lima tahun! Bukankah lebih nyaman menyelonjorkan tubuh dengan posisi seenaknya di atas sofa, dengan perasaan puas karena aku telah menyelesaikan sebuah naskah yang baik, walaupun itu tanpa menggosok gigi dan mencuci muka, tangan, kaki, lalu mengucapkan "Selamat tidur, sayang…" kepada angan-angan?

Angan-angan?
Hm…aku meletakkan kedua lenganku di belakang kepala.
Angan-angan?
Hm…aku memasuki sebuah café di sebuah plaza di tengah kota Surabaya di sepotong senja kelabu yang bergerimis. Hanya beberapa orang duduk di dalam café itu. Sepi. Sayup-sayup When I Need You mengalun dari suara Julio Iglisias.

Angan-angan?
Hm…aku melihat seseorang perempuan duduk di meja paling sudut di dekat jendela kaca. Ia memandang rinai gerimis seakan-akan menghitung jarum-jarum air yang turun satu per satu itu dengan tatapan kosong. Wajahnya cantik tetapi muram. Tubuhnya molek tetapi bahasa tubuhnya jelek sekali. Ia menggigiti ujung jari-jarinya, ia juga mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya, ia juga gelisah bergantian menyilangkan kedua belah betisnya yang langsing.

Angan-angan?
Hm…aku berjalan menuju perempuan itu.

"Kenapa kau masih di sini?" tanyaku pada perempuan itu.

Ia menoleh. Tersenyum. Tetapi tetap muram. "Menunggumu. Akhirnya kamu datang juga," jawabnya gamang.
"Sudah lama?"

"Lama sekali. Bahkan hampir putus asa menunggumu."

"Lalu kenapa terus menunggu?"

"Karena aku yakin kamu pasti datang. Karena aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu. Karena aku sudah berjanji selalu berada di sisimu."

"Ah…," aku menghela napas dan kemudian duduk di depannya.

"Kenapa kau lakukan itu? Aku sudah dimiliki seorang perempuan," kataku sambil memandangnya lekat-lekat.

Ia mengangkat bahu. "Kalau aku jawab karena aku cinta padamu…, mungkin akan sangat terdengar klise. Kamu sudah pasti menulis terlalu banyak untuk sebuah kata cinta. Kalau aku jawab karena aku percaya padamu, mungkin akan sangat terdengar tolol. Kenapa bisa percaya kepada laki-laki yang telah memiliki dan dimiliki perempuan lain. Lalu menurutmu, aku harus menjawab apa?" ia balik bertanya.

"Jawab saja sesuai kata hatimu. Bukankah kata hati adalah suara yang paling jujur?"

"Hm…," ia bergumam agak panjang sambil menghirup float avocado di depannya.

"Karena ngeri sekali rasanya membayangkan bila harus kehilangan dirimu," jawabnya lugu tetapi menyentuh perasaanku.

"Kenapa aku?"

"Karena kamu memberikan rasa nyaman," sahutnya cepat.

"Apakah kamu merasa nyaman menungguku sekian lama?"

"Tidak."

"Lalu?"

Ia menikam manik mataku dengan tatapannya yang murung. "Tahukah kamu, kalau kangen itu adalah luka yang paling nikmat?"

"Ah, sejak kapan kamu jadi puitis?"

"Sejak bersamamu."

Aku tertawa kecil. Bersama perempuan ini memang mengasyikkan.
Jeda sejenak ketika aku memesan fruit punch kesukaanku.
"Fruit punch? Cold? Tidak kedinginan? Di luar hujan. Apakah tidak lebih baik memesan cappuccino?" sergah perempuan itu.

"Kamu selalu membuatku merasa hangat," sahutku.

Olala, benarkah kata-kata pujangga bahwa dunia bisa terbalik kalau sedang jatuh cinta? Panas jadi dingin dan dingin jadi panas? Malam jadi siang dan siang jadi malam? Ah, itu kalau jatuh cinta pada saat dan orang yang tepat! Sergahku dalam hati. Bagaimana kalau jatuh cinta pada saat dan orang yang salah? Alamak, mungkin siang malam akan menjadi panas dingin.
Telepon selularnya yang tergeletak di atas meja mendadak mengeluarkan bunyi ’mengeong’.

"Siapa?" aku bertanya tanpa mampu menahan tawa. Jarang sekali aku mendengar ring tone mengeong seekor kucing.

Ia bergerak menekan tombol view lalu memperlihatkan message di layar kepadaku: ’elu di mna, honey? Gw lagi di Palem café Plaza Senayan. Kpn mo ke jkt? Gw yg atur semuanya deh. Kgen mo refreshing ma elu :)’

"Seekor kucing yang kesepian…," sahutnya dengan nada sumbang.

"Seekor kucing?"

"Seorang laki-laki yang kesepian," ia mengulangi kata-katanya.

"Tadi kamu bilang seekor kucing yang kesepian."

"Laki-laki sama seperti seekor kucing. Licik," sahutnya enteng. "Seekor kucing yang mengeong-ngeong minta dipangku dan dielus-elus tengkuknya. Lalu ia merem melek tidur di pangkuan. Tetapi ketika tetangga sebelah menawarkan seekor pindang, dengan mudahnya ia mengeong, mengendus, dan menjilat kepada tetangga sebelah," sahutnya sejurus setelah menghirup float avocado lagi.

Aku tertawa tanpa bisa kucegah. "Masa sampai seperti itu?"

Ia mengangguk-angguk. Lidahnya yang merah terlihat seksi ketika ia menjilati bibirnya yang indah. "Ya, semua kucing seperti itu. Entah itu kucing Persia, kucing Siam, kucing angora, atau bahkan hanya kucing kampung. Kucing mudah tergoda dengan pindang, empal, hati, atau apa saja. Bahkan kalau tidak ada yang menawari, maka sang kucing akan mencari-cari kesempatan untuk mencuri di atas meja makan, di lemari dapur, atau bahkan mengais-ngais tempat sampah!" ujarnya pelan tetapi terasa ketus.

Aku ikut mengangguk-angguk. Ketika fruit punch-ku datang, kuhirup dulu. Rasa asam dan kecut terasa menyegarkan lidah dan tenggorokanku. Walaupun ujung hidungku juga membias dingin seperti embun yang mengkristal di badan gelas. Lalu aku menyalakan sebatang rokok kretek. Menghisapnya dalam-dalam. Menghembuskannya kuat-kuat. Rokok selalu membuatku merasa lebih tenang. Terlebih lagi jika aku berhadapan dengan perempuan ini.

"Hm…itu laki-laki ya. Laki-laki seperti kucing. Bagaimana kalau perempuan?" tanyaku sejurus kemudian.

"Perempuan seperti anjing…"

"Anjing?!" aku terpana.

"Ya, setia seperti anjing. Apa pun anjing itu. Anjing herder, anjing peking, anjing cow-cow, atau anjing kampung sekalipun, ia akan tetap duduk setia menunggu pintu sampai tuannya pulang ke rumah. Ia tidak akan makan pemberian tetangga sebelah. Anjing hanya memakan yang disodorkan tuannya. Ia tidak akan mencuri-curi kesempatan. Bahkan terkadang, tuannya sudah bosan dan mengusirnya sambil melemparnya dengan sepatu, sang anjing masih kembali menjaga pintu rumah tuannya," ia bicara panjang sambil tertawa.

"Ada sebuah cerita yang kudengar ketika aku masih kanak-kanak. Seekor anjing setiap pagi mengantarkan tuannya ke stasiun kereta dan setiap sore menjemput tuannya di stasiun kereta. Suatu hari, tuannya meninggal di jalan dan tidak pulang kembali. Sang anjing tetap menunggu tuannya di stasiun kereta itu sampai mati pula di dalam penantiannya di stasiun itu."

"Hei, menurutmu itu setia atau tolol, sayang?" ia terkikik.

"Hm, menurutku ironis!" sahutku.

Kali ini tawanya meledak. Ia tertawa sampai bahunya yang indah terguncang-guncang. Tawa panjangnya memenuhi ruangan café, sampai ke jalan-jalan, memantul di selokan-selokan, menembus tirai gerimis, mengalahkan suara merdu Julio Iglisias, mengaung di sepanjang lorong hatiku.

"Ya memang harus seperti itu. Ironis. Anjing dan kucing. Perempuan dan laki-laki. Kau dan aku."

"Kita?"

"Ya. Kita. Kau dan aku."

"Kau dan aku?" aku masih tidak mengerti.

"Ya. Kau adalah aku. Aku adalah kau."

"Hah?"

"Ya. Kau dan aku itu adalah satu kesadaran yang sama. Aku di dalam kau, dan kau di dalam aku. Kita adalah laki-laki. Dan kita adalah perempuan. Kita sekarang ada di café. Kita juga sekarang ada di rumah. Kau selalu membawaku pergi di dalam angan-anganmu. Aku juga selalu mengikuti kau pergi di dalam bayang-bayangmu."

"Mana mungkin?!" desisku terperanjat. "Kau adalah kau. Aku adalah aku. Ini cuma halusinasi. Ini cuma imajinasi. Ini cuma ilusi."

"Tidak. Kita adalah sama. Ini adalah deja-vu."

"Deja-vu?!" seruku tidak percaya.

"Kau siapa?" aku masih bertanya.

"Maya," sahutnya. "Aku Maya. Masa lalu, khayal, mimpi, semu, ada dan tiada."

"Aku siapa?" tanyaku lagi.

"Asa," sahutnya. "Kau Asa. Masa depan, harapan, dan cita-cita."

"Begitukah?" aku bergumam. "Kau Maya, masa laluku. Aku Asa, masa depanmu. Sekarang kita ber-deja-vu?"

"Ya," suaranya seakan-akan datang dari labirin ruang jarak dan waktu di belahan dunia lain.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang bersama?"

"Bagaimana dengan perempuanmu?"

"Persetan dengan dia! Perempuan itu lebih suka memeluk gulingnya daripada memelukku. Sedangkan kau, selalu berada di dalam diriku."

Dia tertawa manis. "Dasar kucing."

"Meonggg…," sahutku.

Lagi-lagi ia tertawa. "Hai, alangkah baiknya kalau perempuan tidak lagi menyumpahi laki-laki dengan kata-kata ’anjing kau!’. Bukankah semestinya perempuan menyumpahi laki-laki dengan kata-kata ’kucing kau!’. Bagaimana menurutmu?"

"Meonggg…," sahutku lagi mengeong seperti seekor kucing yang sedang jatuh cinta.

"Kamu lapar? Haus, darling?"

"Meonggg…"

Aku menariknya ke dalam pelukanku di dalam angan-angan.
Dan aku tertidur ketika menyelesaikannya di dalam sebuah tulisan.
Akhirnya aku beranjak menuju kamar mandi untuk melakukan ritual perempuanku; mencuci tangan, kaki, muka dan menggosok gigi. Bah!
Ketika selesai kubasuh wajahku, aku tengadah melihat pantulan diriku di cermin di atas toilet.
Olala!
Aku separuh perempuan, separuh laki-laki.
Astaga!
Wajahku separuh anjing , separuh kucing.
Alamak!
Aku separuh menggonggong , separuh mengeong.
Ber-deja-vu-kah aku?
***

Kamis, 01 Juli 2010

Ana yang Begitu Mencintai Bunga Kamboja

Ana terlahir tidak untuk meminta. Bibirnya selalu tersenyum. Tapi matanya berkaca-kaca. Pikirannya yang gelisah tak pernah henti bertanya. Adakah hidup adalah bunga Kamboja? Tumbuh suci dalam sepi, menghias kematian yang datang menghampiri. Ia tak mengerti, mengapa hanya kesunyian yang setia menemani. Ia bertanya, tapi ayahnya begitu tenggelam di antara untaian doa dan buku-buku tua. Ia bertanya, tapi ibunya terlampau letih di tengah ladang yang kerontang, menanam setiap harapan untuknya. Tinggallah Ana yang bermain sendiri, merangkai manik-manik air mata yang berderai lepas di pangkuannya. Dan di antara batu-batu nisan, pohon bunga Kamboja itulah yang senantiasa mendekap dan mengusap-usapnya mesra.

"Kenapa orang mati tak bisa bicara?" si Ana kecil bertanya.

"Supaya mereka tidak perlu bertengkar berebut sorga," sang Kamboja menghapus butiran tangis yang meleleh di kedua pipinya.

"Kapan bulan akan mengunjungi kita?"

"Kelak, kalau kamu sudah tumbuh jadi gadis dewasa."

"Tapi, aku takut pada kenangan."

Pohon Kamboja meluruhkan lagi beberapa kuntum bunga di atas kepalanya. Kini Ana pun tersenyum, menyematkan salah satu di antara jepit rambutnya.

"Lihat, kamu secantik senja."

Ana tersipu, merona.

"Kenangan hanyalah bayangan. Ia hadir untuk mempertegas sumber cahaya. Kamu tidak perlu takut. Kegelapanlah yang selalu mengintai dan hendak menerkam kita tiba-tiba."

Si Ana menelungkupkan wajahnya dalam pelukan sang Kamboja.

"Nah, hari sudah mulai petang. Sekarang, pulanglah kamu, Ana. Kudengar doa-doa ayahmu mulai merayapi udara. Dari ladang, ibumu pun tentu segera tiba. Jangan khawatir, nanti akan kukirim setangkai bunga Kamboja yang berkelopak jingga."

"Betul?"

"Ya, akan kukirim untukmu, bersama seorang pangeran sangat tampan yang selalu berkelana menaiki kuda."

"Betulkah?"

"Ya, dalam mimpi."

Ana bergegas menuruni lereng, mengikut bayangan sendiri yang melompat ringan di atas rumputan dan batuan. Capung dan kelelawar bersilewatan, membekaskan sapuan-sapuan temaram di atas garis cakrawala yang melintang remang. Menuju suatu arah, seekor burung terbang menepi. Kepak dan cericitannya yang resah melecut sepi, mengiris langit di atas kepala Ana yang melengkung sunyi. Sepertiku, mungkin ia juga bertanya mengapa malam selalu datang begini tergesa, membuat hati cemas dan pikiran rawan, batin Ana sembari mempercepat langkah kakinya.

Jika hidup adalah bentangan cerita, bagi Ana tak ada yang lebih membahagiakan selain mempercakapkannya dengan bunga Kamboja. Setiap ia terpana oleh pendaran warna baju-baju temannya yang baru dibeli dari kota, oleh kisah-kisah megah perjalanan mereka, juga mainan ajaib aneka rupa yang takkan pernah dimilikinya, begitu saja ia menghambur sedih ke dalam dekapan sang Kamboja. Darinya ia pun segera mendengar segala dongeng purba tentang kehilangan dan luka yang penuh makna. Tentang petaka, tentang penantian, tentang risau, juga harapan yang takkan sia-sia. Berkat kesabaraan bunga Kamboja, Ana lancar pula melantunkan requiem-requiem dan serenada yang kini selalu disenandungkannya perlahan setiap malam sebelum ia terlena. Agar, lewat mimpi, sahabatnya itu tak sampai lupa mengiriminya setangkai bunga Kamboja berkelopak jingga yang diantar sang pangeran berkuda.

Suatu hari, selagi ia asyik bercerita pada bunga Kamboja tentang permusuhan ular dan burung angsa, ibunya datang menyergapnya dengan berlinang air mata. Di belakangnya, ia lihat orang-orang bergerombolan, berdiri membeku. Diam seperti batang-batang pohon pisang yang ditanam tanpa rencana. Setiap kepala tertunduk, mengitari sebuah lubang yang menganga terbuka. Yang tentu telah digali oleh tangan-tangan teramat perkasa, mungkin hingga dasar kedalaman. Ia diberi tahu bahwa yang ada di dalam tandu itu adalah ayahnya yang telah menyempurnakan segala doa dari segenap buku-buku tua. Ia menurut saja, ketika ibunya memapahnya untuk memberi salam terakhir kali pada tandu yang mengusung ayahnya itu. Sebenarnya, ingin ia berjingkrak kegirangan ketika melihat tandu ayahnya juga dihias bunga-bunga Kamboja aneka warna. Tapi, seseorang segera menarik tangan kecilnya menjauh sementara tandu itu mulai diturunkan dari pundak para pemanggulnya. Ia bertanya, tapi semua orang segera merapat mendekati lubang. Ana pun tidak bisa melihat apa-apa selain tanah yang hitam, kaki-kaki yang hitam, tatapan mata yang menghindar dan kelam. Didengarnya kemudian mulut-mulut mereka bergumam menggeremang, menggemakan suara kengerian yang merendap, yang mendesak keluar dari balik setiap dada.

"Apakah ayah masih akan tetap mendoakanku dari dasar lubang itu sepanjang malam?" Ana bertanya hampir putus asa.

"Tentu, Ana. Karena itu, kamu juga mesti berdoa untuknya," ibunya mendekapnya teramat erat.

"Aku akan meminta kepada pohon Kamboja supaya setiap malam ayah juga dikirimi bunga berkelopak jingga yang diantar oleh seorang pangeran berkuda."

Ibunya menangis, orang-orang menangis. Ana tertegun, dan ia pun menangis.

Tapi Ana tak sempat bersedih terlalu lama. Belaian bunga Kamboja yang setia telah membuatnya lupa tentang ayahnya. Sementara ibunya memang tidak lagi berurai air mata, tapi lidahnya tak pernah pula tersentuh kata. Kesunyian begitu penuh mengisi segenap sudut rumah Ana, menyesap setiap makna semata ke dalam dirinya. Beruntunglah bunga Kamboja tak pernah kehabisan cerita. Dan itulah mengapa Ana segera menghambur ke tengah kuburan menemui sahabatnya begitu matahari pagi membangunkannya. Ia hanya pulang ketika hari petang, saat sang pangeran berkuda yang mengantar bunga Kamboja berkelopak jingga sebentar lagi tiba dalam mimpinya.

Telah disusunnya setiap tangkai bunga yang selama ini diterimanya menjadi sebentuk karangan. Ia akan mengalungkannya pada sang pangeran saat pengelana berkuda itu kelak datang membawakan bulan yang dipetik khusus untuknya. Setiap kali bertemu, ingin sekali Ana bertanya tentang negeri asal pangeran nun jauh di sana. Tentang danau saljunya yang berwarna putih selaka. Tentang rusa-rusa betina yang sehalus sutra bulunya. Tentang para peri yang selalu menari dan berdendang mengikuti petikan harpa. Juga tentang anggur elona yang membuat orang mati akan berdecak lidahnya. Tapi fajar selalu lekas merekah dan membuatnya terkesima. Lalu, Ana pun akan dengan terpaksa kembali merawat rindunya. Kerinduan yang dari hari ke hari kian mekar indah di balik dadanya.

"Ketahuilah, Ana. Sekarang kamu telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Ibu telah semakin renta. Seorang lelaki yang sentosa kini datang meminangmu. Kamu akan hidup bahagia bersamanya," di bawah matahari kemarau yang berkilat-kilat membakar pikiran, ibunya menyeruak dan merenggutnya dari pelukan sang Kamboja. Ana yang terkejut hampir-hampir tak lagi mengenali suara ibunya setelah ia tak pernah mendengarnya entah untuk berapa lama.

"Pulanglah, Ana. Ia datang sebagai wujud belas kasih para dewa. Demi duka yang menggantung sepanjang hayat ayahmu, demi sengsara yang menyelimuti seluruh sejarah hidup ibumu, terimalah karunia tak terkira yang dibawanya dengan hati gembira," ibunya menarik paksa tangan Ana sebelum ia sempat bertanya pada sang Kamboja.

"Tapi mengapa ia tak datang lewat mimpi? Tentu ia tak membawakan aku bunga Kamboja berkelopak jingga. Apalagi bulan yang purnama. Apakah mungkin ia adalah pangeranku yang selalu berkelana menaiki kuda?"

Tapi suara ibunya terlanjur lenyap untuk terakhir kalinya. Tinggal sorot matanya yang lelah menerawang, tersaput kesedihan yang tak hendak membersitkan isyarat maupun tanda apa-apa bagi pertanyaan Ana.

Ana memang terlahir tidak untuk meminta. Ia pun berlutut diam di depan bukannya seorang pangeran berkuda, melainkan burisrawa berbaju pedanda. Ialah makhluk berkepala putih-kelabu yang hanya tahu tuak dan bait-bait mantra. Seorang lelaki yang tega begitu rupa menghalau seluruh khayal menakjubkan dari kepala Ana. Oleh sentakan tangan si burisrawa kini berguguranlah serta-merta setiap kelopak jingga bunga Kamboja dari rangkaian yang telah disusun Ana sekian lama.

Mata Ana kian berkaca-kaca. Si burisrawa-pedanda bukan cuma meminta, ia menuntut segalanya. Ia hanya mau, Ana selalu tertawa ria, entah sembari menggendong pagi, menyunggi matahari, dan terutama selama gelap menjelma. Bagi Ana, siang kini adalah hamparan ara-ara membara yang tak seorang pun pernah melihat tepiannya, tanpa tempat bernaung meski sebentar untuknya. Malam adalah lorong-lorong gelap teramat panjang tanpa ada kelip pelita yang sanggup menyala. Kian tertatih kaki Ana mencari, kian tak tahu hendak ke mana ia pergi. Sedang di belakang, telah lama hilang jalan Ana untuk kembali. Seperti tangis bayi di tengah senyap semesta, lolong perih Ana menggelepar tanpa pernah menyentuh telinga siapa pun juga. Rintihannya berluruhan, tersekap di balik lipatan-lipatan hampa bahkan sebelum sempat ia menjadi suara.

Setiap kali hendak bertanya, lidah Ana cuma menancap pada ratusan mata pisau yang berkilap-kilap tersepuh segala mantra si burisrawa. Kucuran darahnya pekat mengalirkan kesaksian, betapa sebagai perempuan ternyata ia adalah sekedar hiasan tentang kerapuhan dan santapan bagi ketakutan yang terus dipelihara atas nama dunia. Dan Ana pun mengerti, betapa laki-laki sebenarnya sama sekali bukanlah pahlawan perkasa. Melainkan, makhluk yang selalu cemas pada kekalahan dengan kepala penuh berjejal prasangka. Ia pun tahu, mengapa si burisrawa sangat membenci bulan. Karena segala tabiat jahat yang disembunyikan di balik jubah pedandanya akan tersingkap sebulatnya saat cahaya purnama. Tapi, tentu saja, yang paling dibenci oleh si burisrawa dari segalanya adalah pertanyaan-pertanyaan Ana.

Setelah entah berapa lama tak lagi bisa bercengkerama dengan bunga-bunga Kamboja, Ana merasa betapa dirinya kini begitu tua. Tubuhnya mengering bertabur luka, jiwanya mengelupas lara. Di balik dadanya terperam beribu-ribu jarum berbisa yang betapa perih terus menusuki segenap relung batinnya. Tapi, seperti dulu juga, bibir Ana selalu tersenyum. Memang ia teramat letih, tapi pikirannya tak hendak berhenti bertanya. Setiap malam, selagi si burisrawa terlelap dalam dengkur, diam-diam kembali disenandungkannya requiem-requiem dan serenada bunga Kamboja, satu-satunya hiburan yang masih tersisa.

Ya, bibir Ana masih selalu tersenyum. Karena, dengan penuh seksama ia sebenarnya telah menata sebuah rencana mulia. Suatu pagi, ia akan meracun si burisrawa yang segera melahap segala yang disodorkan kepadanya tanpa membuka mata. Bangkainya yang berwarna biru toska akan dibaringkannya hati-hati dekat jasad ibunya. Perempuan yang menderita itu telah lebih dulu diselamatkannya dari nestapa tak terperi yang kian menyiksa. Pisau dalam genggaman tangan Ana telah berkelebat melintasi puncak keheningan pada malam sebelumnya, lalu tepat menghunjam jantung ibunya dengan sebuah liukan yang teramat mempesona. Tanpa pekik kesakitan, tanpa tangis penyesalan. Juga tanpa doa-doa usang dari buku-buku tua. Hanya mata Ana yang masih terpejam entah untuk berapa lama, meresapi sisa kenikmatan semburan darah yang tadi begitu hangat mengusap wajahnya. Itulah juga belaian lembut jemari ibunya yang sangat didamba, yang dulu selalu menenteramkan tangis Ana selagi ia masih seorang anak manusia yang belum mengenal apa-apa.

Esoknya Ana akan datang untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada sang Kamboja, sahabatnya, yang telah mengajari bagaimana menghapus rasa takut pada kenangan. Dan bahwa orang mati tak perlu bertengkar memperebutkan sorga. Akan dimintanya sekuntum lagi bunga yang berkelopak jingga, sebagai cinderamata. Lalu, hendak ditunggunya sang pangeran di depan garis cakrawala, saat malam datang menggantikan senja. Ana yang telah sempurna berhias koyak-moyak luka hendak memberikan ciuman perpisahan untuk pangerannya yang selalu berkelana menaiki kuda.

Kini Ana ingin pergi ke mana saja, mengembara hingga ke ujung-ujung dunia. Sendiri, tanpa sang pangeran, tanpa siapa-siapa. Kecuali sekuntum bunga Kamboja yang tersemat sunyi di dadanya. Bergerak perlahan, Ana pun mengendarai angan, di bawah putih cahaya bulan. ***