Kamis, 29 Juli 2010

Dia adalah First Love Gue dan Cinta Pertama Sulit Dilupakan

Kemudian waktu pun berlalu, engga’ disadari usia gue semakin dewasa. Setelah lulus sekolah dasar, gue ngelanjutin pendidikan ke sekolah menengah pertama diJakarta. Berbagai penelitian membuktikan, usia-usia remaja adalah waktu yang penuh gejolak. Perubahan besar akan tabiat seorang anak bisa terjadi di usia itu.

Seperti juga gue, yang mulai memasuki tahap pubertas. Ada seorang gadis, V namanya. Dia adalah cewek di kelas gue, dan anak seorang Pengusaha di kota Jakarta . Pertama kali berjumpa denganya di perpustakaan sekolah, waktu itu adalah hari pertama bagi dia sebagai murid pindahan di sekolahku.

Engga’ salah lagi, dia lah first love gue, karena dia lah orang pertama yang buat gue tau rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Hari-hari selanjutnya, isi kepala gue hanya ada pikiran tentang dia seorang. Disaat itu pula, bakat pujangga gue pertama kali tampak. Gue jadi jago nulis puisi dan surat cinta, karena di jaman gue dulu belum tau sms apalagi fb. Surat-surat itu selalu kukirimkan 1 kali seminggu, bahkan kalo inspirasi gue lagi tinggi, bisa 3 kali seminggu. Surat cinta gue dirimkan lewat seorang teman yang jadi ma’ comblang antara gue dengan dia.

Lagu-lagu metal kegemaran gue ditinggalkan sebentar, karena gue jadi candu lagu-lagu cinta. Seperti lagu-lagunya bon jovi, bryan adam, Gill, The moffats, backstreet boys, boyzone, five minutes, stinky, java jive, adaband, kahitna. Itu menjadi sumber inspirasi dan khayalan gue tentang dia. Duit-duit koin juga gue kumpulin saban hari, buat nelpon dia melalui telpon umum yang jaraknya hanya sekitar 30 meter dari rumahnya.

Cinta pertama emang dapat membuat hati berbunga-bunga, perasaan hati gue bahagia tak terkira waktu itu.

Akhirnya waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hati pun tiba. Waktu itu ada sebuah acara yang diadakan oleh ikatan remaja di sekolah gue, dan kami berdua termasuk dalam kepanitiaan. Waktulah yang mempertemukan kami, berdua dan berdiri saling berhadap-hadapan. Tapi saat itu, lidah gue kelu untuk berkata. Hanya mengulum senyum simpul, sangat khas dan sering terlihat pada remaja puber kaya’ gue.

Dia sendiri sebenarnya sudah tahu apa yang ingin gue katakan, dan seakan menanti kata-kata itu. Tapi, gue tetap diam. “ada apa van, katanya ada yang mau diomongin”. Untuk waktu yang cukup lama dia menunggu, dan akhirnya berlalu dari hadapanku.

Mengingat kejadian itu, gue jadi tau. Ternyata sikap beku gue sudah mulai tampak dari pengalaman cinta pertama, yang gue herankan kenapa sikap itu muncul berbarengan dengan mimpi-mimpi gue yang selalu memuja dan mencari cinta sejati.

Sejak saat itu, dia engga’ pernah mau nerima surat gue, engga’ ngangkat telpon gue, apalagi ketemu. Hingga kemudian, gue akhirnya harus pergi untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas di lain daerah. Sebelum pergi, emang pernah sekali berjumpa denganya. Dia sempat bertanya, tapi gue yang bodoh tetap menjawab seadanya, tanpa basa-basi ucapan perpisahan, apalagi harapan untuk berjumpa lagi.

Gue emang bodoh, seandainya saja waktu itu gue bisa bersikap lebih perhatian, mungkin sikap seperti itu akan keterusan sampai kini, dan ivan yang sekarang bukanlah seorang ivan yang takut mengungkapkan cinta. Sejak kejadian itu, si gadis bersama keluarganya pun tidak lama kemudian harus pindah ke daerah di pulau Jawa, mengikuti tugas dinas sang ayah yang merupakan seorang pengusaha sukses.

Menceritakan kehidupan ku yang sekarang, aku adalah seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta yang terletak di pulau Jawa. Dan secara kebetulan aku kembali berjumpa dengan gadis itu, meski hanya lewat jalur dunia maya. Tapi, jodoh siapa yang tau ?. Dia adalah first love gue, dan cinta pertama sulit untuk dilupakan.


UTADA HIKARU - FIRST LOVE


Saigono kiss wa
tabakono flavor gashita
nigakute setsunaikaori

ashitano imagoroniwa
anatawa dokoniirundarou
darewo omotterundarou

you are always gonna be my love
itsuka darekatomata koiniochitemo
i’ll remember to love
you taught me how
you are always gonna be the one
imawa madakanashii love song
atarashi uta utaerumade

tachidomaru jikanga
ugokidasou to shiteru
wasuretakunai kotobakari

ashitano imagoroniwa
watashiwa kittonaiteru
anatawo omotterundarou

yay yay yeah

you will always be inside my heart
itsumo anatadakeno bashogaarukara
i hope that I have a place in your heart too
now and forever you are still the one
imawa madakanashii love song
atarashii uta utaerumade

you are always gonna be my love
itsuka darekato mata koiniochitemo
i’ll remember to love
you taught me how
you are always gonna be the one
mada kanashii love song yeah
now & forever ah…




Cinta Yang Salah

Setelah ku mengerti semua hal cinta ini
Semakin ku paham bahwa cinta itu sesuatu tanpa bentuk,
Tanpa makna yang jelas dan tanpa kepastian
Makin tak kupahami cinta dan cara kerjanya
Makin tak kukenali cinta dan rasa yang telah kuhadirkan untuknya
Semakin ku takut aku untuk mencintainya
Sehinnga aku memikirkanya di saat ini
Disaat aku mulai jenuh akan semua cinta yang ku cari


Akhirnya, kubiarkan Cinta tumbuh dan menjalar sesukanya.
Ku tak ingin lagi untuk mengerti cinta yang sebenarnya.
Mangenali maksud arah cinta itu
Dan memahami cinta itu untuk lebih lama lagi
Karena cinta tak harus memiliki, karena cinta tak bisa di paksakan...
Dan karena cinta hanya untuk orang-orang yang saling mencintai


Walau sedikit waktu akan cinta yang telah kuhadirkan untuknya
Tawarkan tawa mungkin juga tangis untukku.
Kunanti dengan sabar. …
Mungkin tahun ini, bulan ini, minggu ini, hari ini, atau saat ini juga.
Yah, mungkin saat ini….
Semoga saja aku yg tak mengerti, tak paham, dan tak kenal akan cinta yang sebenarnya, cepat sadar.
kalau saat ini,"Aku bukan orang yang tepat untuk kau cintai".

Bom Kuningan di Hotel JW Marriot-Ritz Charlton

Pagi ini, indah seperti biasanya. Di ruangan tamu, sambil menyeruput secangkir kopi hangat, kupangku putri semata wayang yang sedang asyik bermain dengan boneka kecilnya. Boneka itu, hadiah ulang tahunya yang sebenarnya mempunyai cerita tersendiri. Wanita yang paling kucintai juga duduk disampingku, merekah senyuman ketika melihat tingkah lucu putri kami. Tidak dapat pula kusembunyikan keceriaan akhir-akhir ini, kecintaan tiada tara pada isteriku semakin bertambah ruah setelah kutahu dia sedang hamil. Kami sedang menanti kelahiran satu lagi benih cinta dalam keluarga kecil kami .

Begitulah kebiasaan yang wajar terlihat dikala pagi sebelum aku berangkat kerja. Berusaha menyempatkan diri bercengkrama bersama keluarga kecilku, bercerita sejenak tentang apa saja yang mungkin akan dilewati hari ini. Mereka berdualah cinta sekaligus asaku, selayaknya aku yang tulus mereka cintai dan tempat menumpukan harapan. Meskipun aku hanyalah seorang karyawan restoran yang terletak di salah satu hotel mewah ibu kota.

Pagi ini, akupun tidak memiliki firasat apapun tentang kejadian yang akan kulalui. Karena seperti biasa, aku berusaha membiarkan hidup mengalir sesuai kehendaknya. Bagi orang biasa sepertiku, hanya doa dan kerja keras yang menjadi modal untuk dapat bertahan hidup. Setelah berkeluarga dan menjadi seorang ayah, aku semakin giat berusaha, kulakukan pekerjaan dengan ihklas dan sungguh-sungguh, semua itu demi menafkahi keluarga yang kucintai. Menjadi tulang punggung keluarga adalah kewajiban dan kebahagianku, selain tersirat pula keinginan untuk dapat membahagiakan kedua orang tua di usia senja mereka.

Namun, dalam waktu dekat ini, yang paling kunanti hanyalah satu. Atas izin Yang Maha Kuasa, akan tiba pula saat yang dinantikan. Andai waktu dapat bergulir cepat, ingin aku memohon segera hadir saat dimana aku dapat menyaksikan kehadiran satu lagi benih cintaku di muka bumi ini. Andai saja….

Dilokasi yang berbeda…

Pagi itu, seorang lelaki tampak berkonsentrasi mengerjakan sesuatu. Beberapa komponen keelektrikan berbeda ukuran dan jenis, serta berutas-utas kabel berwarna-warni bertebaran di lantai. Sepertinya dia sedang merangkai komponen-komponen itu menjadi satu kesatuan peralatan yang agar dapat difungsikan oleh waktu. Entahlah, hanya dia yang benar-benar paham apa yang sedang dikerjakan.
Lelaki itu sedang berada dalam salah satu kamar pada sebuh hotel termewah di negeri ini. Sudah sekitar 3 bulan dia menjadi penghuni, dan menurut rencananya hari ini adalah terakhir dia menjadi tamu di hotel ini. Semua barang-barang bawaan telah rapi dimasukkan ke dalam dua buah tas yang direbahkan di atas ranjang, selain masih ada satu pekerjaan lagi yang harus diselesaikan. Rangkaian peralatan itu sepertinya begitu penting sebelum keberangkatannya.

Penampilan lelaki ini cukup menarik untuk dipandang. Raut wajah yang tenang biasanya menandakan kesopanan budi pekerti dan halus tutur kata dari seseorang. Prasangka yang sudah menjadi kelumrahan masyarakat di negeri ini, untuk menilai seseorang dari penampilan luarnya terlebih dahulu.

Ada sekelumit sejarah yang patut diketahui tentang lelaki ini. Cukup lama dia pergi meninggalkan keluarga yang dicintainya tanpa kabar berita, dengan sebuah alasan yang hingga sekarang hanya dia yang tahu. Karena begitu besar keyakinan keluarga padanya, membuat mereka rela dan mendukung niat lelaki itu untuk mengembara demi niat yang tertanam dalam hati. Semenjak muda dia gemar menuntut ilmu, yang akhirnya membuat dia terpahamkan oleh ilmu. Pemahaman yang mengantarkan dia menemukan kawan, kelompok yang sama-sama memperjuangankan apa yang mereka pahami dan benarkan sendiri.

Di tempat inilah aku bekerja. Hari masih sangat pagi, belum banyak pengujung yang datang. Namun sebentar lagi, seperti biasanya pada saat penghuni hotel mulai beranjak melakukan aktifitas, kebanyakan dari mereka akan sarapan di restoran ini. Apalagi pagi hari ini merupakan agenda rutin mingguan dari sekelompok pengusaha penting negeri, mereka mengadakan pertemuan sekaligus sarapan di restoran ini. Tentu saja, merupakan keharusan jika keamanan dalam hotel sekaligus restoran ini sangat diperhatikan, karena selain merupakan salah satu hotel paling mewah yang ada, pengunjungnya pun sebagian besar adalah orang-orang penting. Tidak sedikit juga yang berasal dari luar negeri.

Ketika restoran sudah mulai ramai oleh pengunjung, akupun mulai disibukkan dengan pekerjaan rutin, melayani dengan ramah para pengunjung yang ingin mendapatkan sarapan pagi. Para pengusaha penting juga sudah menempati meja khusus yang sengaja disediakan. Aku berjalan menghampiri salah seorang dari mereka yang sudah cukup kukenal, bos besar pemilik salah satu perusahaan termuka di negeri ini. Terlebih dahulu kuawali dengan senyum dan tegur sapa, sebelum melaksanakan tugasku untuk mencatat pesanan yang mereka inginkan.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, sosok seorang lelaki berjalan perlahan memasuki pintu penghubung antara hotel dan restoran. Sambil menenteng sebuah tas dan menyandang ransel di pundaknya, dia berjalan semakin mendekat. Ternyata, jadi juga dia check out pagi ini, dan mungkin terlebih dahulu ingin sarapan sebelum pergi.

Wajah lelaki yang memang sudah tidak asing bagiku, dia sudah menjadi pengunjung tetap di restoran ini selama 3 bulan terakhir. Aku bahkan sudah hafal kebiasaanya setiap datang, setelah memesan makanan dan minuman, dia langsung memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, mungkin agar dapat melihat pemandangan yang terlihat di luar restoran. Selain, dia juga suka mengamati keadaan sekitar di dalam restoran.

Dari penampilan, dia memang kelihatan nyentrik, jarang bicara, namun murah tersenyum setiap berpapasan dengan siapa saja. Sikap ramahnya itu yang membuat aku beranikan untuk mengobrol denganya di suatu siang. Waktu itu dia sedang menuggu pesanan makanan siang, dan aku melihat dia menanti sambil melihat foto seorang anak gadis.

Pembicaraan pun terjalin, setelah aku tahu yang di foto itu adalah anak gadisnya yang sudah lama tidak dijumpainya, akupun bercerita bahwa mempunyai seorang anak gadis yang seumuran dengan anaknya. Selanjutnya, dalam perbincangan seterusnya dia tidak banyak bicara, lebih banyak menyimak dan mengguratkan senyuman ketika aku bercerita. Tapi ada satu hal yang menarik, seakan ingin mengakhiri pembicaraan kami kala itu, dia mengeluarkan sebuah boneka beruang dari saku jaketnya yang berukuran besar. Boneka itu diberikan kepadaku, “Berikan ini sebagai hadiah untuk putri kecil mu”. Serba kebetulan karena ternyata beberapa hari lagi anakku memang akan berulang tahun, dan boneka itu kuberikan sebagai hadiah ulang tahun putriku. Begitulah aku menceritakan tentang lelaki sedikit misterius yang beberapa bulan ini sering kujumpai.

Kemudian aku menghampirinya, dia sedang berjalan menuju ke arah meja tempat diadakanya pertemuan oleh para pengusaha itu. Di meja pertemuan itu tampaknya si bos yang kukenal tidak berada di tempatnya, terakhir aku meilihat dia berjalan kearah toilet. Namun, selang beberapa detik setelah itu, aku tidak ingat beberapa kejadian selanjutnya.

Aku baru tersentak sadar, ketika kepala bagian kananku terasa sangat ngilu, seperti terkena hantaman benda keras yang sangat kuat. Ketika membuka mata, terkejut melihat seluruh bajuku bersimbah darah, dan aku terkapar di samping trotoar. Aku tahu tempat ini adalah jalan di depan restoran, tetapi kenapa aku disini ?.

Seluruh anggota tubuhku yang lain seperti mati rasa, kedua tangan dan kakiku tak dapat bergerak seperti tidak melekat di tubuhku lagi. Aku belum sempat memastikan apa yang terjadi pada tubuhku, sebelum akhirya kembali tidak sadar. Hanya sayup-sayup aku mendengar suara seseorang sebelum sepenuhnya tak sadarkan diri, itu adalah suara si bos. “Restoran telah di bom”.

Lirik Lagu Dewa – Hadapi Dengan Senyum

hadapi dengan senyuman
semua yang terjadi biar terjadi
hadapi dengan tenang jiwa
semua kan baik-baik saja

bila ketetapan Tuhan
sudah ditetapkan, tetaplah sudah
tak ada yang bisa merubah
dan takkan bisa berubah

relakanlah saja ini
bahwa semua yang terbaik
terbaik untuk kita semua
menyerahlah untuk menang

Sahabat Jadi Cinta

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Alex temanku sudah menunggu diluar rumah nenekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.

“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku.

“Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk.

“Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.

“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”,

“Iya tapi cepat ya” pintanya.

Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah nenekku.

“Wah dingin ya.” kataku pada temanku.

“Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.

Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai.

“Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya.

“Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”,

“Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya.

“Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas.

“Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.

“Van!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku.

Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat.

“Lina?” tanya dalam hati penuh keheranan. Lina adalah teman satu SMK denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Lina juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana.

“Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku.

“Lina kan?” tanyaku padanya.

“Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Alex.

“Lex! Sini” panggilku pada Alex yang sedang asyik bermain basket.

“Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas.

“Ada yang dateng” jawabku.

“Siapa?”tanyanya lagi,

“Lina!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik.

“Siapa? Nggak kedengeran!”.

“Sini dulu aja pasti kamu seneng!”.

Akhirnya Alex pun datang menghampiri aku dan Lina. Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Lina yang tiba-tiba menyapanya.

“Lina?” tanyanya sedikit kaget melihat Lina yang sedikit berubah.

“Kenapa kok tumben ke Jakarta? Kangen ya sama aku?” tanya Alex pada Lina.

“Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Lina yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu.

“Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya.

“Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Alex sedikit lemas.

“Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.

Akhinya Lina mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Lina. Ketika kami sampai di rumah Lina ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 6 tahun.

“Lin, ini siapa?” tanyaku kepadanya.

“Kamu lupa ya ini kan Josh! Adikku.” jawabnya.

“Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”.

“Dasar pikun!” ejek Alex padaku.

“Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Alex.

“Nggak sih!” jawabnya malu.

“Ye sama aja!”.

“Biarin aja!”.

“Udah-udah jangan pada ribut terus.” Lina keluar dari rumah membawa minuman.

“Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua.

“Kalau aku jelas mau dong! Kalau Alex tau!” jawabku tanpa pikir panjang.

“Ye kalau buat Lina aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Alex padaku.

“Maaf banget Lin, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Lina.

“Oh gitu ya! Ya udah Van nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Lina padaku.

“Ok deh!” jawabku cepat. Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Lina terkesan dan pamit kenenekku aku langsung berangkat ke rumah nenek Lina.

Sampai dirumah Lina aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Lina pun keluar dan mempersilahkan aku masuk.

“Eh Ivan sini masuk dulu! Linanya baru siap-siap.” kata beliau ramah.

“Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Lina tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Lina.

“Lina ini Ivan udah dateng” panggil tante Vivi kepada Lina.

“Iya ma bentar lagi” teriak Lina dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Lina keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya.

“Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku. Setelah pamit untuk pergi aku dan Lina pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Lina.

“Van kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku.

“Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.

Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Lina. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Lina kami pun memutuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Lina aku disuruh mampir oleh tante Vivi.

“Ayo Van mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku.

“Ya tante.” jawabku pada tante Vivi. Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang.

Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam.

“Kemana aja tadi sama Lina?” tanya nenekku padaku.

“ Jalan-jalan di Mall !” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Lina. Kayanya aku suka deh sama Lina.

“Nggak! Nggak boleh aku masih kuliah semester awal, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati. Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Lina terus.

Akhirnya sore harinya Lina harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Alex datang kerumah Lina. Akhirnya keluarga Lina siap untuk berangkat.

Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Lina.

“Lina aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.

“Maaf Van aku nggak bisa kita masih terlalu muda!” jawabnya padaku.

“Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”

Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Lina dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Lina. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.





Lirik Lagu Zigaz - Sahabat Jadi Cinta


[Intro] B
B E
Kuhantarkan bak di pelataran
E G#m
Hati yang temaran
E B
Matamu juga mata mataku
C#m F#m
Ada hasrat yang mungkin terlarang
E B
Satu kata yang sulit terucap
E G#m
Hingga batinku tersiksa
E B
Tuhan tolong aku jelaskanlah
C#m F#m
Perasaanku berubah jadi cinta
[chorus]
B F#m
Tak bisa hatiku merafikan cinta
G#m F#m
Karena cinta tersirat bukan tersurat
E D#m
Meski bibirku terus berkata tidak
C#m F#m
Mataku terus pancarkan sinarnya
E B
Kudapati diri makin tersesat
E G#m
Saat kita bersama
E B
Desah nafas yang tak bisa truskan
C#m F#m
persahabatan jadi cinta
[chorus]
B F#m
Apa yang kita kini tengah rasakan
G#m F#m
Mengapakah kita coba persatukan
E D#m
Mungkin cobaan untuk persahabatan
C#m F#m B
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan

Waktu dan Cinta

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya.

Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu.

Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.

“Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta.

“Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan, “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.”

Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta.

Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.

Tak lama lewatlah Kecantikan.

“Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta.

“Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya.

Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.

“Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,” kata Cinta.

“Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!”

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.

Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.

“Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu.” kata orang itu.

“Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta heran.

“Sebab,” kata orang itu, “Hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu.”

Sepertinya halnya Tuhan …
Seringkali kita berdosa dalam hidup kita…
Menyalahkan Dia untuk setiap kalinya bahkan berkali-kali dalam keseharian kita,
namun Tuhan selalu punya waktu disaat kita butuh Dia,
Tuhan selalu ada disaat kita berjalan dalam lembah kekelaman…

Mampukan kami untuk berjalan bersamamu Tuhan…
Selalu menghargai cinta dan pengorbananmu di dalam hidup kami,
karena engkau telah lebih dulu menghargai kami yang Kau jadikan biji mata-Mu

Sekali lagi, Tuhan telah beri waktu-Nya untuk kita,
karena begitu Ia mengasihi dan mencintai kita anak-Nya…
Sudahkah kita memberi waktu kita padaNya?

Kisah Sebuah Jam

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

“Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?”

“Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?”

“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”

“Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. “

Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”

“Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

INTI KISAH INI :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun.

Jangan berkata “tidak” sebelum Anda pernah mencobanya.

Karena Cinta Tidak Selalu Berwujud Bunga

Kekasih saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Satu tahun dalam masa perkenalan, dan tiga tahun dalam masa pacaran, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Kekasih saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pacaran kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan putus.

"Mengapa?", tanya kekasih saya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya.

Kekasih saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya kekasih saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :

"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret-coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ......

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."

"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.

Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk bersamamu di dunia ini, tolong bukakan pintu rumahmu, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."

"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan kenangan-kenangan saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".